![]() |
| ilustrasi |
CIANJUR, (KC), - Eksploitasi
penambangan pasir besi yang merusak kehidupan ekosistem laut di kawasan
Pantai Selatan Jawa Barat, semakin menjadi. Selain merebak di kawasan
Pantai Selatan Tasikmalaya, kondisi serupa juga ditemukan di kawasan
Pantai Selatan Sukabumi dan Cianjur. Bahkan kerusakan yang terjadi di
Pantai Selatan Sukabumi dan Cianjur tampak lebih parah.
Demikian
ditegaskan Duta Sawala Baresan Olot Tatar Sunda (BOTS) yang juga Ketua
Forum DAS Citarum, Eka Santosa, saat melakukan road show dan melihat
secara langsung kerusakan yang terjadi di sepanjang Pantai Selatan
Sukabumi dan Cianjur, Senin-Selasa (30-31/7). Rencananya Eka dan timnya
akan menyusuri kawasan Pantai Selatan Jawa Barat dari Sukabumi, Cianjur,
Garut, Tasikmalaya, hingga berakhir di Pangandaran, Kab. Ciamis.
Menurut Eka, dirinya sangat prihatin atas kerusakan sangat parah yang terjadi di kawasan Pantai Selatan Sukabumi dan Cianjur.
"Kondisi
ini tentunya tidak dapat dibiarkan. Sebab selain berkaitan dengan hajat
hidup orang banyak yang cenderung terlupakan, eksploitasi pasir besi
yang menjorok jauh ke tengah laut akan berdampak pada bergesernya batas
daratan wilayah Indonesia. Wilayah kita dicaplok orang lain," tegas
Presidium Laskar Merah Putih ini.
Eka
menambahkan, dirinya tidak mengada-ada karena melihat langsung, betapa
hancurnya kawasan Pantai Tegalbuleud di Sukabumi serta Sindangbarang dan
Cidaun di Cianjur. Di Tegalbuleud, Eka dan timnya menemukan pantai yang
dibenteng sepanjang 17 km dan terdapat bangunan dermaga serta pabrik
pengolahan pasir besi di tengah laut.
Kondisi
yang tidak jauh berbeda, tambah Eka, juga ditemukan di Pantai Selatan
Cianjur. "Bahkan di Pantai Sindangbarang (Cidaun), terdapat areal salah
satu kesatuan yang digunakan untuk penambangan pasir besi. Setidaknya
ada dua perusahaan besar yang menggarap lahan tersebut, salah satunya
perusahaan milik wakil rakyat di DPRD Kab. Cianjur," katanya.
Mantan
Ketua DPRD Jabar ini mengungkapkan, apa yang terjadi di kawasan pantai
selatan Sukabumi dan Cianjur dengan pasir besinya tersebut, sudah
melanggar perizinan dan tata ruang.
Isu nasional
Menurut
Eka, apa yang sudah terjadi di kawasan Pantai Selatan tersebut
merupakan bukti betapa rakyat di daerah menjadi sangat menderita. Sebab
keuntungan hanya dimiliki segelintir pengusaha atau oknum-oknum
tertentu.
Menurut Eka, dari
hasil penelusuran dan komunikasi dengan masyarakat setempat, mereka
umumnya merasa sangat kecewa dan tidak setuju adanya penambangan pasir
besi (eksploitasi besar-besaran, red) di kawasan tersebut. Namun mereka
tidak mampu berbuat banyak.
Pernyataan
Eka diperkuat oleh Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), Thio
Setiowekti yang juga ikut bergabung dalam rombongan. "Eksploitasi yang
sudah dilakukan menyebabkan kerugian negara tidak terukur. Ini jelas
merupakan bentuk-bentuk pencurian aset negara berupa sumber daya alam.
Dapat dikatakan ini sebagai black market di sektor pertambangan pasir
besi," ujarnya.









